Arsip

Posts Tagged ‘percaya diri’

Organisasi membentuk jiwa yang percaya diri

1 April 2010 1 komentar

Kalau kita berbicara tentang remaja, mungkin akan terbayang dalam benak kita tentang anak-anak manusia yang berada dalam masa-masa menyenangkan, ceria, penuh canda, semangat, gejolak keingintahuan, pencarian identitas diri dan emosi. Remaja adalah anak manusia yang sedang tumbuh selepas masa anak-anak menjelang dewasa.
Dalam masa ini tubuhnya berkembang sedemikian pesat dan terjadi perubahan-perubahan dalam wujud fisik dan psikis. Badannya tumbuh berkembang menunjukkan tanda-tanda orang dewasa, perilaku sosialnya berubah semakin menyadari keberadaan dirinya, ingin diakui, dan berkembang pemikiran maupun wawasannya secara lebih luas. Mungkin kalau kita perkirakan umur remaja berkisar antara 13 tahun sampai dengan 25 tahun. Pembatasan umur ini tidak mutlak, dan masih bisa diperdebatkan.
Masa remaja adalah saat-saat pembentukan pribadi, dimana lingkungan sangat berperan. Kalau kita perhatikan ada empat faktor lingkungan yang mempengaruhi remaja, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, teman pergaulan dan dunia luar. Lingkungan yang dibutuhkan oleh remaja adalah lingkungan yang islami, yang mendukung perkembangan imaji mereka secara positif dan menuntun mereka pada kepribadian yang benar. Lingkungan yang islami akan memberi kemudahan dalam pembinaan remaja.
Seorang Remaja, Pemuda atau Pemudi seyogyanya mengikuti organisasi, karena dalam organisasi rasa percaya diri juga dapat tumbuh dalam diri seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi. Selain itu berorganisasi merupakan fitrah manusia, yakni fitrah untuk bersosial. Organisasi adalah tempat untuk mengembangkan idealisme. Dalam organisasi kita dilatih untuk belajar hidup bermasyarakat, belajar untuk memecahkan berbagai permasalahan, dan di dalamnyalah kita akan mendapatkan nikmatnya idealisme. Asumsinya di dalam organisasi alangkah baiknya tidak ditanamkan doktrin tertentu kepada anggotanya, melainkan anggota harus dilatih untuk memperjuangkan kebenaran, yakni kebenaran menurut nilai Islam dan nilai nurani manusia dan sebenarnya kebenaran inilah yang dinamakan idealisme.(Setyawan, 2008)
Nedi, Mahasiswa Berpretasi Unsri 2007 “Banyak hal yang saya peroleh di organisasi. Organisasi memotivasi saya untuk terus belajar memaknai arti hidup. Bagaimana cara dipimpin dan memimpin, dan bekerjasama dalam tim semua saya peroleh di organisasi. Saya lebih mengerti arti cinta, solidaritas, perhatian, dan pengorbanan ketika berada di organisasi. Banyak sahabat dan saudara yang aku peroleh di organisasi. Sebuah penelitian mengatakan bahwa pelajar-pelajar dapat disibukkan dengan komunitas perguruan tinggi mereka merasa mendapatkan keuntungan karena menjadi aktivis seperti, pelatihan kemampuan (skill), pengetahuan bertambah, menyelesaikan gelarnya, dan kemudahan untuk
mendapatkan pekerjaan. (Abrahamowicz dalam Holzweiss, Peggy, etc. 2007)
Kepercayaan diri sering merupakan fungsi langsung dari interpretasi seseorang terhadap keterampilan atau kemampuan yang dimilikinya. Lauster (1992) mendefinisikan kepercayaan diri sebgai ekspresi aktif dan efektif dari perasaan sebagian diri. Pengertian ini mengandung maksud bahwa, orang yang percaya diri akan lebih mendapatkan kualitas besar dalam hal harga diri, penghargaan diri, dan pemahaman diri. Jailani (dalam Andriyani, 2007)
Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu berperilaku seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil seperti yang diharapkan. Kepercayaan diri berawal dari tekad pada diri sendiri untuk melakukan segala yang diinginkan dan dibutuhkan dalam hidup serta terbina dari keyakinan diri sendiri (Angelis, dalam Ruwaida, dkk, 2006).
Menurut Kumara (1998), orang yang memiliki kepercayaan diri merasa yakin akan kemampuan dirinya sehingga bisa menyelesaikan masalahnya, karena tahu apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya serta mempunyai sikap positif yang didasari keyakinan akan kemampuannya. Rasa percaya diri akan muncul apabila orang tidak mempunyai ketergantungan terhadap suatu hal. Mereka sangat yakin dengan apa yang ada dalam dirinya dan yakin akan kemampuannya. Kepercayaan diri seseorang akan muncul dengan adanya perasaan kompeten atau merasa dirinya mampu. (Adler, dalam Suryabrata, 1982)
Sejalan dengan pernyataan di atas, tingkat kepercayaan diri seseorang menentukan derajat apa yang besar, tanpa kepercayaan diri seseorang akan banyak mengalami hambatan dalam menyelesaikan sesuatu sehingga dapat menghambat ketercapaian tujuan yang ia kerjakan. (Jailani, 1999). Anthony (1992) menyatakan, bahwa kepercayaan diri merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran diri, berfikir positif, memiliki kemandirian dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta segala sesuatu yang diinginkan. Meskipun kepercayaan diri diidentikan dengan kemandirian, orang yang kepercayaan dirinya tinggi umumnya lebih mudah terlibat secara pribadi dengan orang lain dan lebih berhasil dalam hubungan interpersonal. Goodstadt & Kipnir, dalam Siska, dkk, 2003) Siswa yang mempunyai kepercayaan diri rendah cenderung merasa tidak aman, tidak bebas, ragu-ragu dan menyalahkan lingkungan sebagai penyebab ia menghadapi suatu masalah. Sedangkan siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi sebenarnya hanya menunjuk padanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut, dimana ia memiliki kompetensi yakni mampu dan percaya bahwa ia bisa didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap dirinya sendiri. Siswa cenderung mempunyai rasa malu, rendah diri karena perasaan dirinya tidak sesuai dengan harapan orang lain.(Gunarso, 1992)
dan usaha ditentukan oleh faktor non akademik. Berarti prestasi akademik hanya berkontribusi untuk kesuksesan kita di dunia kerja sebesar 20%. (Nedi, 2007).
Sumber:
http://etd.eprints.ums.ac.id
http://www.immasjid.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.